Kita pernah berjanji akan menjejakkan kaki sejauh yang kita bisa. Membawa segenggam kesetiaan yang akan menjadi kenyataan nantinya.
Kita pernah berjanji untuk tak pernah melepaskan genggaman tangan saat mewujudkan mimpi. Mimpi untuk menjadi Prajurit TNI maupun menjadi seorang Psikolog.“Meski sendiri itu baik, berdua jauh lebih indah.”
Kita pernah berjanji akan saling menemani bagaimana pun keadaannya. Menjadi peluk yang selalu mendekap saat sendu dan sembab. Penghangat dari setiap kesedihan yang kerap kali membuat gigil. Karena seperti yang kita pernah pahami, tak ada yang paling menenteramkan selain memiliki teman untuk berbagi penderitaan.
Kita pernah berjanji untuk selalu bersama. Saling mengisi kekurangan untuk menyempurkan. Sampai akhirnya kau melakukan kesalahan Menyisakan repih mimpi menjadi setumpukan abu dari catatan rencana yang tak jadi. Yang manakala tersapu angin berlalu. Dan berembus hilang; terbang begitu saja.
Janji tinggalah serpihan kata yang sudah pecah. Untuk membuatnya metatu seperti semula saja akupun tak mengerti. Jika memang berjanji itu hanya dimulut kita aku benar" minta maaf padamu maafkan aku yang tidak bisa selalu berada di dktmu,hingga kau merasa sendiri dan mencari penggantiku. Aku salah, aku perlu merubah diriku, aku bukanlah yang terbaik untukmu .
Salam Hangat,
-wanita yg pernah menjadi bagian di hidupmu.
Kita Sempat Berjanji.
Sabtu, 01 Agustus 2015
Diposting oleh
Unknown
di
05.12
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Dalam Diam,Ada Kamu.
Jumat, 15 Mei 2015
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang tersenyum getir menahan debar jantungnya agar tidak gegabah, sebab ia berharap waktu berjalan cepat, kecuali saat menggenggam tanganmu.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang menjaga hatinya agar tak menyerah memahamimu, memperbaikimu, dan menguatkanmu sambil berharap tak pernah dihampiri keinginan untuk menyerah.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang membayangkan hidup dalam satu atap bersamamu.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang tak kenal lelah memantaskan diri untuk menjadi wanita yang bisa membuat lelakinya bahagia karena apapun yang telah dilakukan wanitanya untuk lelakinya.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang bersahabat baik sejadah. Ia duduk tenang dan menyerahkan apa yang ia tidak punya, memintal doa beserta amin dalam luruh air matanya.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang berharap besar ialah satu-satunya orang yang menjadi pemilik hatimu, selamanya.
Dalam diam yang baik, seseorang itu memiliki keinginan sederhana; selalu membuatmu bahagia karena menemukan separuh dirinya dalam dirimu.
Dari : seseorang yang terkadang egonya lebih menguasai pikirannya. namun dalam hatinya selalu sesak.
Merangir,15-05-2015 (20:41)
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang menjaga hatinya agar tak menyerah memahamimu, memperbaikimu, dan menguatkanmu sambil berharap tak pernah dihampiri keinginan untuk menyerah.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang membayangkan hidup dalam satu atap bersamamu.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang tak kenal lelah memantaskan diri untuk menjadi wanita yang bisa membuat lelakinya bahagia karena apapun yang telah dilakukan wanitanya untuk lelakinya.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang bersahabat baik sejadah. Ia duduk tenang dan menyerahkan apa yang ia tidak punya, memintal doa beserta amin dalam luruh air matanya.
Dalam diam yang baik, ada seseorang yang berharap besar ialah satu-satunya orang yang menjadi pemilik hatimu, selamanya.
Dalam diam yang baik, seseorang itu memiliki keinginan sederhana; selalu membuatmu bahagia karena menemukan separuh dirinya dalam dirimu.
Dari : seseorang yang terkadang egonya lebih menguasai pikirannya. namun dalam hatinya selalu sesak.
Merangir,15-05-2015 (20:41)
Diposting oleh
Unknown
di
06.41
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Apabila, Akan terjadi.
Sejujurnya, aku sedang cemas memikirkan esok hari kita akan seperti apa. Sebab begitu banyak kemungkinan dari ketidakmungkinan yang ada, serta ada satu hal yang mengganjal batinku tetapi enggan kutanyakan kepadamu, yaitu jawaban sebuah kalimat.
“Apakah engkau mencintaiku dan masihkah engkau mencintaiku?”
Setiap harinya, aku memangkas rindu yang tumbuh kering seperti alang-alang, semakin kutebas, semakin mereka meranggas. Hingga rasa lelah menasihatiku untuk berhenti dan membiarkan setiap malam dadaku meledak dengan batuk yang sesak, sebab apalagi yang bisa kuperbuat ketika kau lenyap selain menghibur kedua mataku yang bengkak?
Kau dan aku tak pernah tau kapan takdir menghancurleburkan definisi kita. Ia bukanlah penyabar, melainkan penghitung dan penagih tanpa belas kasih.
Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau khawatirkan, kau boleh mengetahui aku yang terlampau sering mengemis kepada jarum jam agar waktu berjalan cepat hingga kau dan aku berhadapan saling tatap.
Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau cintai, ingatlah dulu ada debar yang membuat mu dan aku hingga tidak bisa tidur.
Terimakasih kepada kamu yang bisa terima semua sifatku dengan dadamu yang lapang. hingga aku kagum akan sifatmu. :)
“Apakah engkau mencintaiku dan masihkah engkau mencintaiku?”
Setiap harinya, aku memangkas rindu yang tumbuh kering seperti alang-alang, semakin kutebas, semakin mereka meranggas. Hingga rasa lelah menasihatiku untuk berhenti dan membiarkan setiap malam dadaku meledak dengan batuk yang sesak, sebab apalagi yang bisa kuperbuat ketika kau lenyap selain menghibur kedua mataku yang bengkak?
Kau dan aku tak pernah tau kapan takdir menghancurleburkan definisi kita. Ia bukanlah penyabar, melainkan penghitung dan penagih tanpa belas kasih.
Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau khawatirkan, kau boleh mengetahui aku yang terlampau sering mengemis kepada jarum jam agar waktu berjalan cepat hingga kau dan aku berhadapan saling tatap.
Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau cintai, ingatlah dulu ada debar yang membuat mu dan aku hingga tidak bisa tidur.
Terimakasih kepada kamu yang bisa terima semua sifatku dengan dadamu yang lapang. hingga aku kagum akan sifatmu. :)
Diposting oleh
Unknown
di
06.29
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kepada organ di dalam tubuh, yang penuh cinta~
Meski selalu ada kemungkinan, hati seringkali memaksakan diri untuk bertahan pada sebuah jatuh yang membuat pemiliknya lupa bagaimana cara tersenyusaat ini, aku masih ingat beribu-ribu hari yang lalu, patah hati mengubah semua warna menjadi gelap. Menjadi hitam. Legam. Penuh rasa takut, bahkan hanya sekadar berbalas tatapan mata untuk sepersekian detik.
Melihat bagaimana patah hati menyita seluruh kewarasan, bagaimana patah hati merenggut habis keinginan untuk hidup, dan bagaimana patah dapat hati membuat seseorang betah menikmati nestapa yang panjang.
Aku selalu bertanya-tanya mengapa semesta selalu sepihak mempertemukan dan memisahkan? Tak adakah kita memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri?
Andai kata patah hati bukan pilihan yang harus dipilih, pada akhirnya itu selalu terjadi tanpa pernah bisa dihindari. Kita harus pasrah ditikam kejamnya kehilangan yang pada awalnya hanya anak-anak harapan yang lugu. Kemudian kita menjahit luka satu per satu dengan air mata sebagai jarumnya, dan ikhlas yang menjadi benangnya. Melukis senyum palsu untuk semua orang di dunia ini di depan cermin sambil berusaha keras agar kelopak mata tidak terjadi hujan badai yang membanjiri pipi. Dan berusaha terlihat tegar dan ceria dengan sisa-sisa tabah dalam tubuh yang ringkih hampir hancur.
Aku telah sadar dan banyak belajar dari waktu yang tak pernah pamrih menuntun hatiku singgah pada hati seseorang. Bahwasanya genggaman tangan bisa menenagkan.
Melihat bagaimana patah hati menyita seluruh kewarasan, bagaimana patah hati merenggut habis keinginan untuk hidup, dan bagaimana patah dapat hati membuat seseorang betah menikmati nestapa yang panjang.
Aku selalu bertanya-tanya mengapa semesta selalu sepihak mempertemukan dan memisahkan? Tak adakah kita memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri?
Andai kata patah hati bukan pilihan yang harus dipilih, pada akhirnya itu selalu terjadi tanpa pernah bisa dihindari. Kita harus pasrah ditikam kejamnya kehilangan yang pada awalnya hanya anak-anak harapan yang lugu. Kemudian kita menjahit luka satu per satu dengan air mata sebagai jarumnya, dan ikhlas yang menjadi benangnya. Melukis senyum palsu untuk semua orang di dunia ini di depan cermin sambil berusaha keras agar kelopak mata tidak terjadi hujan badai yang membanjiri pipi. Dan berusaha terlihat tegar dan ceria dengan sisa-sisa tabah dalam tubuh yang ringkih hampir hancur.
Aku telah sadar dan banyak belajar dari waktu yang tak pernah pamrih menuntun hatiku singgah pada hati seseorang. Bahwasanya genggaman tangan bisa menenagkan.
Diposting oleh
Unknown
di
06.13
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
lelaki terhebatku ke 2 setelah ayah
Minggu, 05 April 2015
Tentang laki" saya. Agus Azlan Syahputra
Laki-laki saya jarang sekali marah padahal suasana hati saya sering berubah-ubah. Jarang pula berbohong bukan karena dia tahu saya benci dibohongi tapi karena dia memang mendidik dirinya sendiri untuk selalu jujur.
Laki-laki saya selalu mengatakan saya cantik padahal saya tidak cantik. Dia selalu mengingatkan saya untuk makan padahal tak jarang saya jadi ngambek karena merasa disuruh-suruh. Laki-laki saya selalu bilang kalau isi kepala saya begitu menyenangkan baginya padahal saya sendiri sering mati bosan dengan hal-hal yang saya pikirkan. Laki-laki saya mampu membuat saya merasa cantik, merasa pandai, merasa percaya diri, dan merasa lebih baik.
Laki-laki saya mampu mematahkan kesedihan saya waktu saya menangis sesenggukan karena merasa terlalu tolol dan lemah dalam menghadapi kenyataan. Dia katakan bahwa saya kuat padahal saya sering menemukan diri saya tak berdaya dan menyerah pada keadaan. Dia mampu membuat saya percaya untuk menjulurkan tangan dan menerima bantuannya saat saya terjatuh dan malas untuk bangkit sendiri.
Laki-laki saya selalu mengatakan bahwa saya perempuan yang tegar padahal saya sering menemukan diri sendiri tenggelam dalam air mata kedukaan. Laki-laki saya tak pernah pergi waktu saya memintanya untuk menunggu. Laki-laki saya selalu ada meski saya pernah begitu marah karena kebencian yang entah datang dari mana.
Laki-laki saya selalu memaafkan meski saya sering menemukan kesalahan diri sendiri begitu memalukan. Laki-laki saya adalah kekuatan yang saya ingat saat saya begitu tenggelam dalam kelemahan. Dia pelita dalam keremangan. Rembulan di langit malam.
Saya pernah begitu marah pada diri sendiri karena merasa begitu tolol dan terlalu banyak cemburu. Laki-laki saya mau repot-repot meyakinkan bahwa saya tidaklah seburuk yang saya pikirkan. Saya pernah salah, dan laki-laki saya tak pernah menolak untuk membenahi. Saya pernah sakit, dan laki-laki saya tak pernah menghindar untuk menemani.
Ada malam-malam yang begitu menyakitkan waktu saya terlalu pengecut untuk menghadapi rindu yang tak pulang-pulang dari kepala saya, dan laki-laki saya meyakinkan bahwa saya tidak sedang rindu sendirian. Dia meyakinkan saya bahwa rindu yang menghampirinya sama bandelnya dengan rindu yang ada di kepala saya.
Laki-laki saya selalu mau repot mengabari saya tiap kali ia akan bepergian padahal saya selalu lalai memberinya kabar. Ia tak pernah marah, hanya sesekali sedikit lebih rewel menanyakan saya berada di mana waktu saya lupa memberinya kabar.
Laki-laki saya tak jarang memberi kejutan lewat tulisan, candaan, atau hadiah-hadiah kecil yang membuat saya sendiri malu karena sering lupa menghadiahi diri sendiri dengan hal-hal yang menyenangkan. Laki-laki saya penyabar yang membuat saya meniru kesabarannya. Dia tenang yang menenangkan. Laki-laki saya tahu kapan harus memperlakukan saya sebagai seorang adik kecil atau sebagai seorang perempuan dewasa yang dia butuhkan
Laki-laki saya jarang sekali marah padahal suasana hati saya sering berubah-ubah. Jarang pula berbohong bukan karena dia tahu saya benci dibohongi tapi karena dia memang mendidik dirinya sendiri untuk selalu jujur.
Laki-laki saya selalu mengatakan saya cantik padahal saya tidak cantik. Dia selalu mengingatkan saya untuk makan padahal tak jarang saya jadi ngambek karena merasa disuruh-suruh. Laki-laki saya selalu bilang kalau isi kepala saya begitu menyenangkan baginya padahal saya sendiri sering mati bosan dengan hal-hal yang saya pikirkan. Laki-laki saya mampu membuat saya merasa cantik, merasa pandai, merasa percaya diri, dan merasa lebih baik.
Laki-laki saya mampu mematahkan kesedihan saya waktu saya menangis sesenggukan karena merasa terlalu tolol dan lemah dalam menghadapi kenyataan. Dia katakan bahwa saya kuat padahal saya sering menemukan diri saya tak berdaya dan menyerah pada keadaan. Dia mampu membuat saya percaya untuk menjulurkan tangan dan menerima bantuannya saat saya terjatuh dan malas untuk bangkit sendiri.
Laki-laki saya selalu mengatakan bahwa saya perempuan yang tegar padahal saya sering menemukan diri sendiri tenggelam dalam air mata kedukaan. Laki-laki saya tak pernah pergi waktu saya memintanya untuk menunggu. Laki-laki saya selalu ada meski saya pernah begitu marah karena kebencian yang entah datang dari mana.
Laki-laki saya selalu memaafkan meski saya sering menemukan kesalahan diri sendiri begitu memalukan. Laki-laki saya adalah kekuatan yang saya ingat saat saya begitu tenggelam dalam kelemahan. Dia pelita dalam keremangan. Rembulan di langit malam.
Saya pernah begitu marah pada diri sendiri karena merasa begitu tolol dan terlalu banyak cemburu. Laki-laki saya mau repot-repot meyakinkan bahwa saya tidaklah seburuk yang saya pikirkan. Saya pernah salah, dan laki-laki saya tak pernah menolak untuk membenahi. Saya pernah sakit, dan laki-laki saya tak pernah menghindar untuk menemani.
Ada malam-malam yang begitu menyakitkan waktu saya terlalu pengecut untuk menghadapi rindu yang tak pulang-pulang dari kepala saya, dan laki-laki saya meyakinkan bahwa saya tidak sedang rindu sendirian. Dia meyakinkan saya bahwa rindu yang menghampirinya sama bandelnya dengan rindu yang ada di kepala saya.
Laki-laki saya selalu mau repot mengabari saya tiap kali ia akan bepergian padahal saya selalu lalai memberinya kabar. Ia tak pernah marah, hanya sesekali sedikit lebih rewel menanyakan saya berada di mana waktu saya lupa memberinya kabar.
Laki-laki saya tak jarang memberi kejutan lewat tulisan, candaan, atau hadiah-hadiah kecil yang membuat saya sendiri malu karena sering lupa menghadiahi diri sendiri dengan hal-hal yang menyenangkan. Laki-laki saya penyabar yang membuat saya meniru kesabarannya. Dia tenang yang menenangkan. Laki-laki saya tahu kapan harus memperlakukan saya sebagai seorang adik kecil atau sebagai seorang perempuan dewasa yang dia butuhkan
Diposting oleh
Unknown
di
07.42
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jika Aku yang kau rasa benar.
Senin, 17 November 2014
Ada begitu banyak kebohongan yang aku simpan. Salah satunya adalah merasa tidak apa-apa ketika kamu angkat tangan, menyerah atas kita. Salah duanya, aku merasa baik-baik saja ketika kamu tak ada. Salah tiganya, aku merasa biasa saja saat di sana, di dada kirimu, kamu sudah hapus namaku dan menggantinya dengan nama orang lain.
Oh, dengan ukiran yang lebih indah.
Mungkin.
Menurutku, cinta tak harus memiliki, tapi sebaik-baik cinta adalah yang saling memperjuangkan dan yang tabah mempertahankan, layaknya dua tangan dalam satu genggam yang saling menguatkan dan enggan merenggang.
Cinta memang tak harus memiliki, Tapi cinta itu, keduanya saling menjaga. Bukan hanya salah satu saja..
Aku peranah merasa kamu adalah satu" nya laki" yang bisa merubah ku, memberi kebahagiaan,memberi cinta yang besar.
Namun, aku juga pernah jatuh terlalu dalam ,hingga aku lupa bagaimana cara nya untuk bangkit.
Aku penah berfikir , Tuhan menciptakan cinta dgn paket lengkap. Seperti ini. Di dalam cinta, ada kebahagiaan dan ada luka. Luka menurutku bisa jadi bahagia ketika kamu dapat belajar dari luka trsbut.. Betapa aku mencintai laki" seperti ayah ku. Beliau hebaat. Selalu punya cara untk membuat wanitanya tersenyum, walaupun sebnarnya ia lelah karna kerja. Tapi itu ayahkku. Bukan aku. Aku adalah remaja yang hatinya sedang dalam keadaan emergency.
Kepada kamu yg pernah ada di hatiku, kumohon jgn rubah sikap mu itu.jadilah kebanggaanku, agar kelak jika kita menjadi satu aku takkan merasakan sakitnya seperti sekarang.
(VIA)
Oh, dengan ukiran yang lebih indah.
Mungkin.
Menurutku, cinta tak harus memiliki, tapi sebaik-baik cinta adalah yang saling memperjuangkan dan yang tabah mempertahankan, layaknya dua tangan dalam satu genggam yang saling menguatkan dan enggan merenggang.
Cinta memang tak harus memiliki, Tapi cinta itu, keduanya saling menjaga. Bukan hanya salah satu saja..
Aku peranah merasa kamu adalah satu" nya laki" yang bisa merubah ku, memberi kebahagiaan,memberi cinta yang besar.
Namun, aku juga pernah jatuh terlalu dalam ,hingga aku lupa bagaimana cara nya untuk bangkit.
Aku penah berfikir , Tuhan menciptakan cinta dgn paket lengkap. Seperti ini. Di dalam cinta, ada kebahagiaan dan ada luka. Luka menurutku bisa jadi bahagia ketika kamu dapat belajar dari luka trsbut.. Betapa aku mencintai laki" seperti ayah ku. Beliau hebaat. Selalu punya cara untk membuat wanitanya tersenyum, walaupun sebnarnya ia lelah karna kerja. Tapi itu ayahkku. Bukan aku. Aku adalah remaja yang hatinya sedang dalam keadaan emergency.
Kepada kamu yg pernah ada di hatiku, kumohon jgn rubah sikap mu itu.jadilah kebanggaanku, agar kelak jika kita menjadi satu aku takkan merasakan sakitnya seperti sekarang.
(VIA)
Diposting oleh
Unknown
di
05.14
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Akhir
Minggu, 16 November 2014
Teruntuk kamu.
Mungkin kamu tak akan mengerti bagaimana rasanya dirundung kesepian seperti malam-malam yang selama ini kulalui. Ah ralat, maksudku sepanjang tik tok jam yang aku lalui, tak hanya malam-malam lagi. Setiap hari. Sebab toh kamu punya banyak sekali teman, banyak sekali obrolan dan perbincangan, pun rencana-rencana untuk pergi bersama entah dengan siapa yang jelas bukan aku.
Mungkin juga kamu tak akan pernah menyangka betapa pedih rasanya ketika kamu mau melakukan apapun yang seseorang minta, tapi dia tak melakukan hal yang sama. Seperti menjadikannya nomor satu sementara kamu bahkan tak menduduki posisi kedua, ketiga atau bahkan kelima dalam hidupnya.
Mungkin lagi, kamu tak akan pernah peduli betapa kamu begitu dicintai dan dibutuhkan.
Mungkin kamu tidak akan tahu, bagaimana rasanya seseorang menahan rindu dan pura" tegar di hadapanmu.
Yang salah mungkin justru aku, memberimu waktu untuk sibuk sendiri, lalu aku kehilangan kamu.
Jadi tak salah sama sekali jika kamu memilih pergi mencari suasana baru, padahal ada aku yang siap ada untukmu.
Tak salah pula jika kamu memilih melakukan hal-hal yang menyenangkan sendirian, atau bersama teman-teman, atau entah siapa.
Sekali lagi kamu tak salah.
Yang salah mungkin justru aku.
Kamu tak bertanggung jawab atas pedih, sedih, dan sakit yang aku rasakan karena kehilangan kamu. Yang bertanggung jawab mungkin adalah kesepian-kesepian yang aku ciptakan sendiri.
Mungkin bukan pula salahmu ketika kamu berubah menjadi bangsat.
Mungkin salah kecewaku yang terlalu mengharapkanmu untuk selalu ada dan tak pernah minggat.
Hahaha. Mungkin kesepian itu seharusnya memang dibunuh lalu dihilangkan dari kamus kehidupan. Agar tak banyak orang yang menderita seperti aku di luar sana.
Aku menyayangimu. Sungguh.
Ada dua pilihan bagiku untuk menghadapi kamu. Mungkin aku perlu berkata kasar, tapi kamu nanti menangis dan sakit hati jika mendengarnya..
Atau aku biarkan kamu pergi. Dan tak pernah mengharapkanmu ada dalam hidupku lagi.
Oh ayolah, aku hanya marah.
Entah marah pada siapa. Bukan.. bukan padamu.
Aku tak mungkin mengatakan hal yang macam-macam karena aku tak mau melihatmu terluka. Tak pernah tega. Aku hanya pergi untuk sementara. Sampai kamu –jika aku beruntung- merasakan kesepian yang sama. Sampai kamu –jika aku beruntung lagi- merindukanku sama besarnya.
Aku hanya kesepian. Kesepian sekali.
Aku hanya sedang rindu. Rindu sekali.
Ah.. Sudah, sudah.. Kamu tak perlu memikirkan tentang sakitnya sepi yang mengiris nadi. Itu urusanku. Kamu pergilah. Sampai kamu temukan hal-hal yang membahagiakan. Kelak ketika kamu merasa lelah, dan benar-benar tak ada yang mendengarkanmu, kamu bisa temui aku lagi.
Mungkin kamu tak akan mengerti bagaimana rasanya dirundung kesepian seperti malam-malam yang selama ini kulalui. Ah ralat, maksudku sepanjang tik tok jam yang aku lalui, tak hanya malam-malam lagi. Setiap hari. Sebab toh kamu punya banyak sekali teman, banyak sekali obrolan dan perbincangan, pun rencana-rencana untuk pergi bersama entah dengan siapa yang jelas bukan aku.
Mungkin juga kamu tak akan pernah menyangka betapa pedih rasanya ketika kamu mau melakukan apapun yang seseorang minta, tapi dia tak melakukan hal yang sama. Seperti menjadikannya nomor satu sementara kamu bahkan tak menduduki posisi kedua, ketiga atau bahkan kelima dalam hidupnya.
Mungkin lagi, kamu tak akan pernah peduli betapa kamu begitu dicintai dan dibutuhkan.
Mungkin kamu tidak akan tahu, bagaimana rasanya seseorang menahan rindu dan pura" tegar di hadapanmu.
Yang salah mungkin justru aku, memberimu waktu untuk sibuk sendiri, lalu aku kehilangan kamu.
Jadi tak salah sama sekali jika kamu memilih pergi mencari suasana baru, padahal ada aku yang siap ada untukmu.
Tak salah pula jika kamu memilih melakukan hal-hal yang menyenangkan sendirian, atau bersama teman-teman, atau entah siapa.
Sekali lagi kamu tak salah.
Yang salah mungkin justru aku.
Kamu tak bertanggung jawab atas pedih, sedih, dan sakit yang aku rasakan karena kehilangan kamu. Yang bertanggung jawab mungkin adalah kesepian-kesepian yang aku ciptakan sendiri.
Mungkin bukan pula salahmu ketika kamu berubah menjadi bangsat.
Mungkin salah kecewaku yang terlalu mengharapkanmu untuk selalu ada dan tak pernah minggat.
Hahaha. Mungkin kesepian itu seharusnya memang dibunuh lalu dihilangkan dari kamus kehidupan. Agar tak banyak orang yang menderita seperti aku di luar sana.
Aku menyayangimu. Sungguh.
Ada dua pilihan bagiku untuk menghadapi kamu. Mungkin aku perlu berkata kasar, tapi kamu nanti menangis dan sakit hati jika mendengarnya..
Atau aku biarkan kamu pergi. Dan tak pernah mengharapkanmu ada dalam hidupku lagi.
Oh ayolah, aku hanya marah.
Entah marah pada siapa. Bukan.. bukan padamu.
Aku tak mungkin mengatakan hal yang macam-macam karena aku tak mau melihatmu terluka. Tak pernah tega. Aku hanya pergi untuk sementara. Sampai kamu –jika aku beruntung- merasakan kesepian yang sama. Sampai kamu –jika aku beruntung lagi- merindukanku sama besarnya.
Aku hanya kesepian. Kesepian sekali.
Aku hanya sedang rindu. Rindu sekali.
Ah.. Sudah, sudah.. Kamu tak perlu memikirkan tentang sakitnya sepi yang mengiris nadi. Itu urusanku. Kamu pergilah. Sampai kamu temukan hal-hal yang membahagiakan. Kelak ketika kamu merasa lelah, dan benar-benar tak ada yang mendengarkanmu, kamu bisa temui aku lagi.
Diposting oleh
Unknown
di
08.09
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)