Nulis Tanpa Batas

Nulis Tanpa Batas

Sepenggal Puisi

Sabtu, 08 Februari 2014



surat ini tak sengaja ku temukan dalam tumpukan buku-buku dimeja belajarku. ahh, aku ingat. ini adalah surat yang ku tulis tahun lalu. saat aku rindu. semoga surat ini sampai ke tanganmu sebelum aku tiada.



aku mencintaimu..
seperti malam yang semakin larut. dan membiarkan bintang menampakkan dirinya lebih banyak..


aku mencintaimu..
seromantis deruan ombak malam ini. syahdu dan menghanyutkan..


aku mencintaimu..
seperti sepi yang selalu menemaniku di dermaga malam ini..

aku mencintaimu..

tenang seperti laut saat malam. yang malu malu untuk bersuara..

aku mencintaimu…
seperti hawa dingin yang hingga membuatmu memeluk dirimu sendiri..

dan..



aku mencintaimu..


seperti aku yang sekarang..
menunggu pagi datang membawa harapan baru…

Sukses Untuk Perjuanganmu



Hai kamu,

Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana, yang jelas aku berterima kasih dengan semua hal yang telah kita lewati. Melewati segala kesederhanaan yang kita ciptakan. Melalui semua perhatian yang kamu curahkan. Aku berterima kasih. 

Hai kamu, yang sedang menapaki jejak kedewasaan.

Selamat sebentar lagi masa Putih Abu-abumu akan habis. Tapi , sebelum itu kamu akan lewati perjalanan yang menegangkan. Apalagi jika bukan UN. Ya, menurutku kamu sudah lebih tau tak tik nya. Bukan kah kamu sudah pernah UN 2kali?

Pangeran…

Coba kau focus untuk waktu ini, supaya apa yang menjadi cita-citamu kelak tercapai. Jangan sesekali kau khauatir padaku. Aku tetap di sini, di hatimu. Bayangkan jika kelak cita-citamu tercapai, menjadi seorang TNI, atau Abri. Pasti banyak wanita yang menginginkanmu, yang lebih manis dariku, yang lebih pintar, dan pastinya lebih dewasa. Apa kau tak ingin menjadi seorang yang di puja banyak wanita?
Yaa.. walaupun aku juga ingin memiliki lelaki yang sukses karirnya.

Dear Bee…

Aku menuntutmu soal ini dan hanya kali ini. Aku berharap pikiranmu harus fokus untuk ujianmu, dan aku? Aku akan membantumu lewat doa-doa yang selalu ku panjatkan pada Tuhan.

Selamat atas semua jerih payahmu menempuh seluruh mata pelajaran yang telah kamu lalui, sekarang kamu berada di puncak semua jerih payah itu. Semoga kamu melewati ujian itu dengan baik, dan semoga apa yang telah kamu persiapkan berjalan lancar. 

_wanitamu : Via_

Sosok Terindah



Pagi ini aku terbangun dari tidur yang cukup lama, dengan membawa kekhawatiran untuk orang lain karena tidak memberinya kabar. Bukannya aku tak ingin, tapi memang hal itu tidak bisa dilakukan. Bukan juga aku ingin membuatnya khawatir, karena hal itu juga akan membuatku tak tenang. Semoga ia bisa mengerti, karena aku juga sedang merindukannya saat sini.

Rindu untuk bercengkrama bersama, berjalan sambil bergandeng tangan, dan berbagi cerita tentang keseharian yang menyenangkan.

Keberadaanya sangat berarti bagiku, bukan hanya tampak fisik. Lebih dari itu...

Kehadirannya mampu meredakan amarah yang sedang bergejolak, jika ia menyunggingkan senyum. Sentuhannya membuat kegelisahan seketika berubah menjadi rasa tenang. Dengan adanya dia di kehidupanku, aku mulai menjaga sikap dan perkataan; karena hal itu akan menentukan kebahagiaan atau kesedihannya, membuatnya semakin dekat, atau menjauh.

Aku tidak ingin jauh darinya, apalagi membuatnya bersedih. Membuat ia khawatir pun bisa membuatku tak tenang untuk melakukan sesuatu. Keberadaanya seperti candu bagiku, dalam hitungan jam tak jumpa pun rasa rindu itu akan muncul. Walaupun terkadang atau bahkan selalu, rindu itu masih terasa saat kita sedang bersama.

Aku berterima kasih pada Tuhan karena telah menghadirkannya di kehidupanku. Semoga jiwa raganya tetap menjagaku juga J

Teruntuk My prince, AAS
Tertanda Your Princess VDW

Tentang Perasaan

Sabtu, 01 Februari 2014



Bagaimana Kabarmu?
Iya kamu yang sedang membaca ini. Sebelum ke inti kamu harus persiapkan diri , tarik nafass, buang..
Baiklah Bee, aku akan menuliskan tentang dirimu lagi yang tak akan bosan-bosan nya ku post kan.

“vi, apa yang tengah kau pikirkan?”
“aku baik-baik aja Bee”
“Vi, aku ini pacarmu, jangan sungkan untuk bercerita. Vi kau tau kan betapa kita saling terbuka, lalu kenapa sore ini kamu berbeda”
“badanku sedikit kurang enak Bee”
“kalau begitu mari aku antar pulang Vi”
“jangan Bee. Kumohon . aku lebih baik berada di sampingmu daripada tanpamu” ku berikan senyuman padanya
“asal kamu tau Vi, kalau boleh serumah aku akan tinggal bersamamu. Menghabiskan waktu bersama berdua. Tanpa ada gangguan , tidak seperti sekarang yang penuh rintangan” sorot matanya mulai berubah, tampaknya ia sedang serius.
“jadi menurutmu sekarang kita sedang dipenuhi rintangan Bee?”
“menurutmu gimana Vi?”
“aku selalu membawa masalah menjadi bahagia, sepi menjadi penenang, sedih sebagai luapan. Kau tau Bee, betapa aku adalah sosok yang paling bisa menyembunyikan  rasa sakit. Semuanya kubawa santai. Bahkan aku bisa menahan air mata kala bicara tentang kita di sampingmu”
“tapi sore ini kamu bohong Vi”
“mmm” aku menyembunyikan wajahku dari tatapannya
“kau tau apa yang ku bilang bohong Vi?”
“aku gak bohong Bee” ucapku senggugukan
“air matamu keluar Vi, katamu  kamu pandai menyembunyikan kesedihan saat bersamaku. Tapi itu bohong” peluknya membuatku terasa tenang
“Bee, aku  terlihat lemah jika ada pangeran yang tak pantas aku bohongi”
Ia mulai mengambil saputangan nya , dan mengelap air mataku
“sudahlah Vi, kau tak perlu bohongi perasaanmu. Aku tak sanggup liat bola matamu yang bening ,sekarang di basahi air mata”
Aku sadar betapa jeleknya rupa wajahku saat menahan tangis di hadapannya. Aku mulai  mengatur nafas yang tak beraturan ini.
“Bee, sungguh kau anugrah yang paling sering aku banggakan di hadapan_Nya saat  aku dalam keadaan suci, dan tanganku sejajar dengan dada”
“Terimakasih yang teramat padamu Vi, aku sungguh sungguh dalam menjaga cinta kita”
Kami terhanyut dalam nyanyian burung, Ia menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya dalam, seakan aku tak ingin kehilangannya_

_Merangir, 01 Feb 2014_