Sepenggal Puisi
Sabtu, 08 Februari 2014
surat ini tak sengaja ku temukan dalam tumpukan buku-buku dimeja belajarku. ahh, aku ingat. ini adalah surat yang ku tulis tahun lalu. saat aku rindu. semoga surat ini sampai ke tanganmu sebelum aku tiada.
aku mencintaimu..
seperti malam yang semakin larut. dan membiarkan bintang menampakkan dirinya lebih banyak..
aku mencintaimu..
seromantis deruan ombak malam ini. syahdu dan menghanyutkan..
aku mencintaimu..
seperti sepi yang selalu menemaniku di dermaga malam ini..
aku mencintaimu..
tenang seperti laut saat malam. yang malu malu untuk bersuara..
aku mencintaimu…
seperti hawa dingin yang hingga membuatmu memeluk dirimu sendiri..
dan..
aku mencintaimu..
seperti aku yang sekarang..
menunggu pagi datang membawa harapan baru…
Diposting oleh
Unknown
di
21.13
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sukses Untuk Perjuanganmu
Hai kamu,
Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana, yang jelas aku berterima kasih dengan semua hal yang telah kita lewati. Melewati segala kesederhanaan yang kita ciptakan. Melalui semua perhatian yang kamu curahkan. Aku berterima kasih.
Hai kamu, yang
sedang menapaki jejak kedewasaan.
Selamat sebentar lagi masa Putih
Abu-abumu akan habis. Tapi , sebelum itu kamu akan lewati perjalanan yang
menegangkan. Apalagi jika bukan UN. Ya, menurutku kamu sudah lebih tau tak tik
nya. Bukan kah kamu sudah pernah UN 2kali?
Pangeran…
Coba kau focus untuk waktu ini,
supaya apa yang menjadi cita-citamu kelak tercapai. Jangan sesekali kau
khauatir padaku. Aku tetap di sini, di hatimu. Bayangkan jika kelak cita-citamu
tercapai, menjadi seorang TNI, atau Abri. Pasti banyak wanita yang menginginkanmu,
yang lebih manis dariku, yang lebih pintar, dan pastinya lebih dewasa. Apa kau
tak ingin menjadi seorang yang di puja banyak wanita?
Yaa.. walaupun aku juga ingin
memiliki lelaki yang sukses karirnya.
Dear Bee…
Aku menuntutmu soal ini dan hanya
kali ini. Aku berharap pikiranmu harus fokus untuk ujianmu, dan aku? Aku akan
membantumu lewat doa-doa yang selalu ku panjatkan pada Tuhan.
Selamat atas
semua jerih payahmu menempuh seluruh mata pelajaran yang telah kamu lalui,
sekarang kamu berada di puncak semua jerih payah itu. Semoga kamu melewati ujian itu dengan baik, dan semoga apa yang telah kamu
persiapkan berjalan lancar.
_wanitamu : Via_
Diposting oleh
Unknown
di
20.55
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sosok Terindah
Pagi ini aku terbangun dari tidur
yang cukup lama, dengan membawa kekhawatiran untuk orang lain karena tidak
memberinya kabar. Bukannya aku tak ingin, tapi memang hal itu tidak bisa
dilakukan. Bukan juga aku ingin membuatnya khawatir, karena hal itu juga akan
membuatku tak tenang. Semoga ia bisa mengerti, karena aku juga sedang
merindukannya saat sini.
Rindu untuk bercengkrama bersama,
berjalan sambil bergandeng tangan, dan berbagi cerita tentang keseharian yang menyenangkan.
Keberadaanya sangat berarti bagiku,
bukan hanya tampak fisik. Lebih dari itu...
Kehadirannya mampu meredakan amarah
yang sedang bergejolak, jika ia menyunggingkan senyum. Sentuhannya membuat
kegelisahan seketika berubah menjadi rasa tenang. Dengan adanya dia di
kehidupanku, aku mulai menjaga sikap dan perkataan; karena hal itu akan
menentukan kebahagiaan atau kesedihannya, membuatnya semakin dekat, atau
menjauh.
Aku tidak ingin jauh darinya,
apalagi membuatnya bersedih. Membuat ia khawatir pun bisa membuatku tak tenang
untuk melakukan sesuatu. Keberadaanya seperti candu bagiku, dalam hitungan jam
tak jumpa pun rasa rindu itu akan muncul. Walaupun terkadang atau bahkan
selalu, rindu itu masih terasa saat kita sedang bersama.
Aku berterima kasih pada Tuhan
karena telah menghadirkannya di kehidupanku. Semoga jiwa raganya tetap
menjagaku juga J
Teruntuk My prince, AAS
Tertanda Your Princess VDW
Diposting oleh
Unknown
di
20.42
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Tentang Perasaan
Sabtu, 01 Februari 2014
Bagaimana Kabarmu?
Iya kamu yang sedang membaca ini.
Sebelum ke inti kamu harus persiapkan diri , tarik nafass, buang..
Baiklah Bee, aku akan menuliskan
tentang dirimu lagi yang tak akan bosan-bosan nya ku post kan.
“vi, apa yang tengah kau pikirkan?”
“aku baik-baik aja Bee”
“Vi, aku ini pacarmu, jangan sungkan untuk bercerita. Vi kau
tau kan betapa kita saling terbuka, lalu kenapa sore ini kamu berbeda”
“badanku sedikit kurang enak Bee”
“kalau begitu mari aku antar pulang Vi”
“jangan Bee. Kumohon . aku lebih baik berada di sampingmu
daripada tanpamu” ku berikan senyuman padanya
“asal kamu tau Vi, kalau boleh serumah aku akan tinggal
bersamamu. Menghabiskan waktu bersama berdua. Tanpa ada gangguan , tidak
seperti sekarang yang penuh rintangan” sorot matanya mulai berubah, tampaknya
ia sedang serius.
“jadi menurutmu sekarang kita sedang dipenuhi rintangan
Bee?”
“menurutmu gimana Vi?”
“aku selalu membawa masalah menjadi bahagia, sepi menjadi
penenang, sedih sebagai luapan. Kau tau Bee, betapa aku adalah sosok yang
paling bisa menyembunyikan rasa sakit.
Semuanya kubawa santai. Bahkan aku bisa menahan air mata kala bicara tentang
kita di sampingmu”
“tapi sore ini kamu bohong Vi”
“mmm” aku menyembunyikan wajahku dari tatapannya
“kau tau apa yang ku bilang bohong Vi?”
“aku gak bohong Bee” ucapku senggugukan
“air matamu keluar Vi, katamu kamu pandai menyembunyikan kesedihan saat
bersamaku. Tapi itu bohong” peluknya membuatku terasa tenang
“Bee, aku terlihat
lemah jika ada pangeran yang tak pantas aku bohongi”
Ia mulai mengambil saputangan nya , dan mengelap air mataku
“sudahlah Vi, kau tak perlu bohongi perasaanmu. Aku tak
sanggup liat bola matamu yang bening ,sekarang di basahi air mata”
Aku sadar betapa jeleknya rupa wajahku saat menahan tangis
di hadapannya. Aku mulai mengatur nafas
yang tak beraturan ini.
“Bee, sungguh kau anugrah yang paling sering aku banggakan
di hadapan_Nya saat aku dalam keadaan
suci, dan tanganku sejajar dengan dada”
“Terimakasih yang teramat padamu Vi, aku sungguh sungguh
dalam menjaga cinta kita”
Kami terhanyut dalam nyanyian burung, Ia menggenggam
tanganku erat. Aku menatapnya dalam, seakan aku tak ingin kehilangannya_
_Merangir, 01 Feb 2014_
Diposting oleh
Unknown
di
06.50
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)
