Nulis Tanpa Batas

Nulis Tanpa Batas

KITA, dalam senja

Kamis, 30 Januari 2014

Senja memerah di ufuk barat, garis-garis magenta terbias di antara langit jingga berpadu biru. Dan kita masih duduk di sudut itu. Menikmati setiap detik waktu dalam mengantarkan matahari membenam. Ditingkahi embus angin-angin sore yang memainkan setiap anak rambut yang tergerai jatuh menutupi dahi.
"Tahukah kau apa yang disampaikan senja, puan?" katamu memecah keheningan.
"Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejapan mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu."

Aku tersenyum. Merebahkan kepala pada bahumu yang tegap. Membenahi posisi duduk untuk merekatkan dekap. Membiarkan kehangatan menyesapi kisi hati lekat-lekat.
"Rindu itu kamu, tuan. Senja yang datang setelah siang kerontang, pelepas penat selepas panas," kataku berbisik sambil mengecup pipimu.
Kau tertawa. Renyah suara yang selalu kusuka, hal yang tak pernah jenuh membuatku jatuh cinta. Mencintaimu seperti menemukan bagian diriku yang sudah lama hilang. Pencipta kebahagiaan yang tak lekang, meski jarak begitu angkuh memaksa kita berjauhan.
"Kapan kita akan berhenti saling mencintai dalam jarak berjauhan?" tanyaku lirih.
"Bersabarlah, kelak jarak akan menyerah dan mengalah. Merekatkan dekap hingga erat. Membuat perasaan menjadi utuh, seluruh," lalu kau menatap mataku dalam-dalam, menyunggingkan senyum. Kemudian pelan-pelan, bibirmu jatuh di bibirku.
Burung-burung berpulangan. Lampu-lampu dinyalakan. Malam datang lagi, dan senja perlahan beranjak pergi.

_via_

0 komentar:

Posting Komentar